Prodi PAI Universitas Islam Bunga Bangsa Cirebon

Good Character and Visionary | Strugle and Humble.

VISI Prodi PAI

Menjadi Pusat Studi Pendidikan Agama Islam Rahmatan Lilalamin untuk Menghasilkan Tenaga Pendidik PAI yang Memiliki Good Character and Visionary Tingkat Nasional Tahun 2025.

MISI

(1) Menyelenggarakan pendidikan dan pembelajaran Agama Islam untuk menghasilkan tenaga pendidik PAI yang unggul.

MISI

(2) Menyelenggarakan dan mengembangkan Pendidikan Agama Islam rahmatan lil’alamin yang inovatif melalui riset unggulan dan kolaboratif.

MISI

(3) Berperan aktif dalam menyelesaikan permasalahan masyarakat dalam bidang Pendidikan Agama Islam.

MISI

(4) Menjalin kerjasama dengan berbagai pihak untuk meningkatan kualitas dan kinerja Program Studi Pendidikan Agama Islam baik dalam negeri dan luar negeri.

6.02.2024

Internalisasi nilai-nilai Pancasila di Ruang Akademis

Sejarah Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia dimulai dengan pidato Ir. Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 di depan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (Dokuritsu Junbi Cosakai). Ir. Sukarno pertama kali menyarankan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia yang merdeka dalam pidato ini. Dengan suara bulat, seluruh anggota sidang memilih Pancasila, yang merupakan lima prinsip, yang kemudian menjadi dasar Konstitusi 1945. Lima prinsip tersebut adalah: Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan rakyat yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 
Selama proses perumusan Pancasila, banyak perbincangan dan upaya persuasif yang akhirnya menghasilkan gagasan yang dapat diterima untuk dimasukkan ke dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 19451. Pada 18 Agustus 1945, BPUPKI mengesahkan Pancasila sebagai ideologi nasional Indonesia. Pancasila menjadi landasan yang kuat yang menyatukan berbagai budaya, suku, dan agama Indonesia. Ini mencerminkan perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan dan keinginan untuk kemerdekaan.
Internalisasi pengamalan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara Indonesia di kalangan masyarakat akademis memiliki peran strategis terlebih dalam membentuk sikap, etika, dan karakter akademis.  Langkah-langkah tersebut dapat dimulai diantaranya melalui; 1) Pendidikan: Perguruan tinggi berperan aktif dalam mendorong pemahaman tentang Pancasila sebagai ideologi negara. Ini dapat dicapai melalui pengajaran nilai-nilai Pancasila dalam ruang diskusi dan kajian kritis, seminar dan workshop. 2. Contoh Teladan: Setiap makhluk pada prinsipnya memiliki potensi imitatif atau peniruan, oleh karena itu model yang ideal harus hadir sebagai contoh teladan. Internalisasi nilai pancasila dapat dikuatkan melalui model dari seluruh stakeholder dan masyarakat akademis sehingga dapat dijadikan contoh oleh sekitarnya. 3. Pengabdian Masyarakat: Penanaman nilai-nilai Pancasila dapat dimulai ditanam melalui prinsip-prinsip Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dengan melakukan hal-hal seperti melakukan bakti sosial, atau bekerja sama dengan komunitas. 4. Diskusi : Sangat penting untuk membuat ruang diskusi di mana mahasiswa dapat berbicara secara kritis satu sama lain. 5. Adaptasi: Nilai-nilai Pancasila harus diinternalisasikan dengan cara generasi saat ini, terutama bagi mahasiswa. Mereka dapat memperkuat pemahaman mereka dengan pendekatan yang sederhana, mudah difahami.
Pancasila sebagai ideologi negara harus dipahami oleh seluruh warga negara, dan perguruan tinggi memiliki peran sentral dalam mengajarkan dan mengamalkan nilai-nilai tersebut. Dengan memperkuat internalisasi Pancasila, kita dapat membangun generasi yang berakhlak, beretika, dan mencintai tanah air.

5.06.2024

Ki Hadjar Dewantara; Menelusur Pemikiran Bapak Pendidikan Nasional

Ki Hadjar Dewantara adalah tokoh pendidikan, pahlawan nasional sekaligus merupakan Bapak Pendidikan Indonesia; sewaktu muda banyak berkecimpung dan berjuang melalui dunia politik, dunia pers, dunia kebudayaan, dan tentu saja juga dunia pendidikan sebagaimana yang kita kenal selama ini. Ki Hadjar Dewantara masa kecilnya bernama R.M. Soewardi Surjaningrat, lahir pada hari Kamis Legi, tanggal 02 Puasa tahun Jawa, bertepatan dengan tanggal 2 Mei 1889 M. Ayahnya bernama G.P.H. Surjaningrat putra Kanjeng Hadipati Harjo Surjo Sasraningrat yang bergelar Sri Paku Alam ke-III. Ibunya adalah seorang putri keraton Yogyakarta yang lebih dikenal sebagai pewaris Kadilangu keturunan langsung Sunan Kalijogo.

 

Ki Hajar Dewantara mengenalkan “Teori Trikon” (kontinuitas, konsentrisitas dan konvergensi) sebagai rujukan dan usaha pembinaan kebudayaan nasional.  Berdasarkan teori tri-kon, sesungguhnya pendidikan harus berasaskan pada kebudayaan sendiri (culture), karena kebudayaan merupakan kearifan lokal yang harus tetap dipertahankan. Kearifan lokal merupakan  satu bentuk nyata dari pada karakter bangsa Indonesia. Ki Hadjar Dewantara mengatakan hendaknya usaha kemajuan ditempuh melalui  culture masyarakat Indonesia, konvergen dengan dunia luar, dan akhirnya bersatu secara universalitas, dalam  persatuan  yang  konsentris  yaitu  bersatu namun  tetap  mempunyai  kepribadian sendiri.

 

Selain itu Ki Hadjar Dewantara pula mengenalkan konsep pendidikan yang dikembangkan bercorak pada “Tripilar Pendidikan” (keluarga, sekolah dan masyarakat), dan metode “sistem among” sebagai  metode pendidikan dan pengajarannya  (Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa,  Tut Wuri Handayani) sangat urgen untuk dikaji dan diimplementasikan. 

 

Konsep pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara dijelaskan dalam bukunya  tentang  Pendidikan dan Kebudayaan.  Konsep pendidikan  yang dikembangkan dengan bercorak  pada “Tri-pilar Pendidikan” (keluarga, sekolah dan masyarakat), Asas-asas Panca Dharma (Kemerdekaan, Kodrat Alam, Kebudayaan, Kerohanian, Kemanusiaan) dan metode “sistem among” sebagai metode pendidikan dan pengajarannya (Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri  Handayani).

 

Salah satu gagasan yang menarik dikaji dari ajaran  Ki  Hajar  adalah konsep Pancadarma Perguruan Taman Siswa yang disusun pada 1947. Ki Hajar seolah ingin mengungkapkan bahwa usaha-usaha mencerdaskan kehidupan bangsa harus memiliki landasan atau fondasi yang kuat dan kokoh. Dari konsep pemikiran Ki Hajar Dewantara tersebut, saat ini dinilai memiliki kontribusi sehingga lahirnya konsepsi pendidikan karakter di Indonesia. Ki  Hadjar  Dewantara  telah  jauh  berpikir  dalam masalah pendidikan karakter. 

 

Pemikiran Ki Hadjar Dewantara ternyata memiliki pengaruh kuat tidak hanya terhadap pendidikan Indonesia, namun konsepsi pendidikan Ki Hadjar Dewantara berhasil mengangkat aspek pendidikan secara global, salah satunya pendidikan di negara Finlandia. Para pegiat pendidikan Finlandia nyata-nyata menerapkan dan mengadaptasikan konsepsi pendidikan Ki Hadjar Dewantara di negaranya dan dibuktikan selama dua puluh tahun mereka membuat mata dunia terbelanga karena mengakui bahwa taraf pendidikannya yang berkualitas.

 

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa pendidikan adalah bagian dari kebudayaan. Bila kebudayaan berubah maka pendidikan juga bisa berubah dan bila pendidikan berubah akan dapat mengubah kebudayaan. Pendidikan adalah suatu proses membuat orang kemasukan budaya, membuat orang berprilaku mengikuti budaya yang memasuki dirinya. Sekolah sebagai salah satu dari tempat enkulturasi suatu budaya sesungguhnya merupakan bahan masukan bagi anak dalam mengembangkan dirinya.

 

4.28.2024

Moderasi Beragama; Pemahaman dan Implementasinya pada Pendidikan Agama Islam

Moderasi beragama adalah gagasan atau prinsip yang mengajarkan dan mendorong sikap yang menerima, menghargai, dan menghormati perbedaan agama dan keyakinan. Konsep moderasi beragama didasarkan pada keyakinan bahwa setiap orang memiliki hak untuk memilih dan menerapkan agamanya sendiri tanpa mengalami intimidasi atau diskriminasi.

Moderasi beragama didefinisikan sebagai perspektif yang tidak berlebihan, tidak ekstrem (berlebihan dan mengabaikan prinsip toleransi), tidak radikal, dan intoleran. Tujuan moderasi beragama adalah untuk mencapai keseimbangan dalam praktik agama dan mencegah perilaku yang merugikan orang lain. Fakta bahwa moderasi beragama sangat penting adalah karena dapat membantu menjalin kerukunan antar umat beragama dengan menghormati perbedaan keyakinan. Selain itu, moderasi agama dapat mencegah konflik. Moderasi beragama mengurangi kemungkinan konflik dan perpecahan di negara yang pluralistik seperti Indonesia. Menurut moderasi agama, seseorang harus menghindari melanggar ketertiban umum dan melampaui batas yang telah disepakati.

Implementasi moderasi beragama dalam pendidikan agama Islam memiliki peran penting dalam membentuk karakter siswa dan memperkuat nilai-nilai toleransi dan kerukunan. Ini adalah beberapa elemen yang berkaitan dengan penerapan moderasi beragama dalam pendidikan agama Islam

  1. Konsep moderasi beragama. Moderasi beragama mengajarkan toleransi, keseimbangan, dan penghormatan terhadap perbedaan keyakinan. Tawassuth (mengambil jalan tengah), tawazun (berkeseimbangan), i'tidal (lurus dan tegas), tasamuh (toleransi), musawah (egaliter), dan syura adalah prinsip-prinsip moderasi.
  2. Tanda-tanda Moderasi Beragama. Komitmen kebangsaan, penghargaan terhadap keberagaman dan persatuan, toleransi, penghormatan terhadap perbedaan keyakinan, anti-radikalisme dan kekerasan, menolak ekstremisme, dan akomodasi terhadap budaya lokal dan nilai-nilai lokal.
  3. Kebijakan Moderasi Beragama. Kementerian Agama telah menetapkan beberapa kebijakan untuk mendukung moderasi beragama. Nilai-nilai moderasi beragama dimasukkan ke dalam kurikulum PAI untuk meningkatkan kesadaran beragama.

Tujuan dari penerapan moderasi dalam pendidikan agama Islam di Universitas Islam Bunga Bangsa Cirebon adalah untuk menghasilkan generasi mahasiswa sebagai bagian civitas akademika yang ramah, terbuka, dan menghargai keberagaman. Selain itu, menerapkan moderasi dalam pendidikan agama Islam di masjid dapat mengurangi kemungkinan konflik dan memperkuatnya. Dengan menerapkan moderasi dalam pendidikan agama Islam, tujuan adalah untuk membentuk generasi yang toleran, inklusif, dan menghargai keberagaman. Ini juga dapat mengurangi kemungkinan konflik dan memperkuat kerukunan antarumat beragama. Ini adalah langkah penting dalam membangun karakter siswa yang berakhlak mulia dan berkontribusi positif pada pembangunan bangsa.

4.23.2024

Peningkatan Karakter Kepemimpinan di Alam Terbuka; Mahasiswa Prodi PAI UI BBC

Era globalisasi saat ini, setiap orang harus memiliki sifat kepemimpinan, terutama mahasiswa, karena mereka adalah agen perubahan dan pemimpin masa depan. Kegiatan di alam terbuka adalah cara yang bagus untuk membangun karakter kepemimpinan. Alam terbuka menawarkan banyak tantangan dan peluang, yang dapat membentuk dan meningkatkan kepemimpinan seorang mahasiswa.

Berikut adalah beberapa orientasi implementasi progam kegiatan mahasiswa terkait "peningkatan karakter kepemimpinan di alam terbuka" yang diselenggarakan Progam Studi PAI Universitas Islam Bunga Bangsa Cirebon (UI BBC) kolaborasi bersama Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (HIMPAI). 

Kepemimpinan dan Lingkungan Terbuka
Kegiatan di alam terbuka seperti mendaki gunung, arung jeram, atau outbound memberikan banyak pelajaran selain hanya menyenangkan. Mahasiswa harus keluar dari zona nyaman mereka, menghadapi ketidakpastian, dan membuat keputusan dalam situasi yang tidak terduga di alam terbuka. Secara alami, proses ini meningkatkan kemampuan kepemimpinan seperti membuat keputusan, bekerja sama dengan tim, dan tetap tenang.

Mengatasi Masalah
Mahasiswa menghadapi banyak kesulitan fisik dan mental saat berada di alam terbuka. Untuk mencapai tujuan bersama, mereka harus merencanakan, berkoordinasi, dan bekerja sama. Tantangan ini mengajarkan mereka bagaimana menjadi pemimpin yang tangguh, adaptif, dan responsif terhadap perubahan. Pengalaman ini juga membantu Anda menjadi lebih baik dalam berkomunikasi dan bernegosiasi, yang sangat penting untuk kepemimpinan.

Pendidikan dari Alam
Alam mengajarkan siswa harga diri dan penghargaan terhadap lingkungannya. Kegiatan di alam terbuka seringkali menuntut siswa untuk bertindak sebagai pemimpin dan bertanggung jawab atas keselamatan tim. Ini menanamkan rasa tanggung jawab dan mendorong siswa untuk mempertimbangkan kesejahteraan orang lain daripada diri mereka sendiri.

Kegiatan di alam terbuka adalah tempat yang fantastis untuk membangun sifat kepemimpinan siswa. Melalui hambatan dan pelajaran alam

4.22.2024

Halal Bihalal; Membangun iklim zoon politicon di lingkungan akademis.

Manusia sebagai makhluk sosial selalu memiliki kebutuhan dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, bahkan manusia sebagai bagian dalam masyarakat dinilai senantiasa bergantung pada orang lain. Aristoteles seorang filsuf berpendapat bahwa manusia sebagai makhluk sosial disebut pula sebagai zoon politicon. Manusia sebagai makhluk sosial memiliki naluri untuk selalu bersama dengan orang lain, tidak dapat dipisahkan dari iklim masyarakatnya. Interaksi sesama manusia dilakukan dengan berbagai cara, seperti berkomunikasi, membantu, menolong, bekerja sama dan sebagainya. Terlebih di era digital, interaksi tersebut dapat dilakukan secara daring sehingga seakan tidak bisa kian terpisahkan meskipun tempat yang terbentang saling berjauhan.

Interaksi antar manusia tidak terlepas dari culture atau budaya, baik berdasar culture suatu daerah atau tempat suatu wilayah, bahkan tekait pula diantaranya culture berdasar interaksi dalam masyarakat akademis. Lingkungan akademis salah satunya adalah lingkungan kampus, di mana tidak terlepas pula sebagai bagian dari interaksi antar manusia sebagai makhluk sosial.  

Iklim dan lingkungan akademik di Universitas Islam Bunga Bangsa Cirebon dibangun berdasar culture kebersamaan dan kekeluargaan. Melalui refleksi halal bihalal di Universitas Islam Bunga Bangsa Cirebon dibangun iklim zoon politicon. Halal bihalal tidak hanya terselenggara karena momentum pada saat moment lebaran saja pasca seluruh umat Islam menunaikan ibadah puasa selama ramadhan, di mana setiap orang saling bersilaturahim-bersalaman dan saling maaf-memafkan. Namun apabila dikaji secara komprehensif halal bihalal dapat menjadi media strategis dalam menumbuhkan zoon pliticon yang secara langsung memiliki nilai ubudiah secara horizontal. Membangun kesadaran akan makna dan nilai bahwa sesama manusia adalah bersaudara dan tidak bisa terhindar dari peran sesama.